Pada temu karya Taman Budaya se-Indonesia 27 -30 Juli 2009 di samping ditampilkan kesenian dari 33 provinsi tidak ketinggalan pula pagelaran musik gamad dari Kota Padang. Gamad adalah kesenian yang mengabungkan kesenian berbagai etnis.

Hal ini dikatakan oleh Koordinator Pagelaran Musik Gamad yang juga pengurus Himpunan Keluarga Gamad Padang (Hikagapa), Utjok Chalifendri kepada MinangkabauOnline. Utjok menambahkan, gendang ketipung pada gamad berasal dari India, tarian dan sebahagian lagu dari Melayu, alat musik akordion dari Eropa dan bahasa pantun dari Minangkabau.

“Gabungan dari unsur itulah melahirkan musik gamad yang menjadi kesenian khas kota Padang. Asal usul musik gamad bisa di telusuri sampai ke tanah Melayu, karena kemiripan musik dan tariannya. Tapi asal musik gamad juga bisa di telusuri sampai ke Eropa melalui tari Balanse Madam dan alat musik akordion yang terdapat dalam gamad,” katanya.

“Pusat gamad adalah kota Padang. Tapi jangan heran musik gamad cukup terkenal di Minangkabau. Ada tiga etnis pendukung musik gamad, Nias, Keling dan etnis Minangkabau. Etnis Nias adalah paling banyak keterlibatannya dalam musik gamad. Separo pemusik gamad berasal dari etnis Nias. Artinya pusat musik gamad berada pada pemukiman etnis Nias. Walau pun begitu gamad tidak terasa berasal dari satu etnis. Gamad telah menjadi media sosialisasi antar etnis. Masing-masing etnis memberikan kontribusi budaya dalam pembentukan musik gamad. Orang Nias melalui tari Balanse Madam, etnis Keling melalui alat musik gendang dan kemampuan manajemen dan pemasaran etnis Minangkabau melalui lagu dan aneka ragam pantun,” papar Utjok.

Musik gamad dimainkan oleh anak kapal. Dalam gerak meninggalkan tari Balanse Madam. Tari ini tidak berkembang dengan baik, karena ada aturan dalam adat di Minangkabau perempuan dilarang keluar malam. Alat musik yang dimainkan oleh orang Portugis bukanlah milik nenek moyangnya tapi dari benua Afrika. Musik itu pindah ke semenanjung Balkan baru sampai ke Portugis. Bisa dipastikan hampir semua alat musik yang berada di pesisir pantai Sumatera (Melayu Deli) dan Jawa punya ikatan yang sangat kuat dengan Portugis.

Awalnya gamad hanya memakai biola, akordion, gitar dan gendang. Namun alat musik Marakas, sring bass dan terompet ikut meramaikan kasanah musik gamad lirik pun masih mengunakan pantun sebagai kekuatan utama. Pada tahun 1920 gamad sudah berkembang di kota Padang. Pada masa itu pagelaran musik gamad dilakukan sembunyi- sembunyi. Hanya ada dua tempat waktu itu untuk mengelar musik gamad itu pun atas izin pemerintah Belanda. Pertama di Sri Darma sekarang gedung Bagindo Azis Chan dan gedung bulat (sekarang menjadi gedung Juang 45 di Pasar Mudik).

Awal kemerdekaan gamad masih berkibar. Berkat perhatian Walikota Padang yang waktu itu dijabat oleh Zainal Abidin Sutan Pangeran (1953) gamad di perlombakan di kantor Walikota Padang. Tapi sayang pada perang PRRI musik gamad hilang dari peredaran. Setelah pemberontakan PKI pertengahan tahun 60-an musik gamad kembali terdengar ketika alat musik eliktrik sudah mulai dipakai. Pemerintah kota Padang sangat besar perhatiannya terhadap musisi musik gamad. Zainal Abidin Sutan Pangeran menjadikan seniman gamad karyawan Balai Kota. MT Japang dan Juned (Ayah Yan Juned) menjadi mantri pasar. Dasar walikota waktu menjadikan dua orang musisi musik gamad menjadi karyawan agar musisi gamad itu tidak memikirkan uang untuk keluarga lagi. “Perlakuan seperti ini tidak lagi kita dapatkan dari pemerintah,” kata Utjok.

Pada tahun yang sama sempat pula grup musik gamad Fajar Timur direkam dalam pita besar bermerek Colombia, rekaman pun berlansung di Singapura. Barulah pada tahun 1995 musik gamad mengalami kemunduran, baik dari segi grup maupun penampilan. Musik gamad jarang mendapat undangan pada setiap perkawinan.

Kini menjamur orgen tunggal, di samping berteknologi tinggi orgen tunggal juga murah dan tidak memakai banyak tempat. Untuk mengatasi persoalan itu beberapa seniman musik gamad berkumpul dan membentuk organisasi Keluarga Gamad Padang. Tujuan awal hanya untuk membantu keluarga yang mendapat musibah dan pesta perkawinan. Jumlah anggota Hikagapa sekarang 60 orang terdiri dari etnis Arab, Nias, Cina, Keling dan terdiri dari seniman dan penikmat musik gamad. Ditemukannya alat percampuran musik manual dan digital pada tahun 2003 kembali menghidupkan gairah musik gamad. Latihan demi latihan kembali dimulai, undangan untuk pementasan kembali datang. Seniman musik gamad kembali bergairah, namun jalan untuk mencapai sukses kembali pada era tahun 1970 terus dipacu walau pun usia seniman musik gamad sudah mulai senja.

Sumber:

http://www.minangkabauonline.com/

©ourtesy of http://laguminanglamo.wordpress.com/

0 Responses to “Musik Gamad Menjadi Media Perekat Antar Etnis”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Translate to

Masukkan email anda pada kotak di bawah dan klik button 'Berlangganan'. Anda akan dikirimi email untuk setiap lirik lagu yang baru tayang

Join 198 other followers

Dari Masa ke Masa


Lokasi Pengunjung

MARAWA

Dikunjungi

  • 3,275,318 orang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers

%d bloggers like this: