Tidak banyak jenis musik tradisional, yang tumbuh-berkembang di berbagai daerah di Indonesia, yang bisa spontan mengugah penontonnya untuk tampil berjoget. Musik dan lagunya menghanyutkan penonton dalam nuansa riang-gembira. Di antara sedikit jenis musik, salah satunya musik tradisional Gamad, yang sudah ada dan tumbuh-kembang sejak awal abad ke-20 di daerah pesisir Ranah Minang, Sumatera Barat.

Lihatlah, misalnya, ketika Gamad Melayu Rustam Raschani, tampil di Taman Ismail Marzuki, dalam rangkaian acara Bedah Buku Karya Lengkap Abdullan bin Abdul Kadir Munsyi, yang disunting Amin Sweeney, profesor emeritus bidang pengkajian Melayu dari Universitas California, Berkeley, Kamis (19/2).

Ketika Rustam Raschani mendendangkan merdu lagu Jambu Merah , spontan seorang penonton tampil di depan panggung, karena tak tahan untuk berjoget, lalu mencari penonton lain untuk pasangan berjoget. Amboi, asyiknya mereka berjoget tarian balance madam. Penonton lain agak malu-malu, hanya turut bergoyang di tempat duduknya.

Setiap lagu yang dilantunkan dalam bahasa Minang (dan memiliki nada dasar mayor), musik Gamad secara serta merta memancing penonton untuk turun berjoget, mengikuti irama musik yang riang gembira dan melankolis sentimental. Lagu-lagu lain yang sempat dibawakan, antara lain Kaparinyo, Tanjuang Katuang . Karena penontonnya dari etnik yang beragam, juga dibawakan lagu melayu Bunga Tanjung .

Dan uniknya di sinilah, para musisi dan vokalis musik Gamad Melayu Rustam Raschani usianya di atas 50 tahun, yang berjoget spontan juga pasangan usia setengah baya ke atas. Vokalis Rustam saja usianya 61 tahun. Musisinya, Yunus Chan pada tamborin, M Rasyid pada akordeon, Yusuf pada gendang, Darsono pada bas, dan Iwan pada biola , bahkan vokalis Yulia, semuanya usianya di atas 50 tahun.

Jika memperhatikan jenis alat musiknya, didominasi oleh instrumen musik barat. Akan tetapi, vokalnya didominasi oleh musik pribumi (Melayu) Minangkabau. Di sini terjadi akulturasi budaya yang mempesona. Musik gamad adalah musik yang terlahir dari akulturasi budaya pribumi yang multietnik dengan budaya barat. Karena ia hidup dan berkembang dalam masyarakat Minangkabau, Gamad pun kemudian menjadi musik tradisional Minangkabau, kata Irman Syah, seniman musik tradisi Minang.

Sastrawan Taufiq Ismail dan istrinya, Ati Ismail, yang menonton pertunjukan musik Gamad, mengaku puas menyaksikan musik tradisional minang Gamad Melayu tersebut. “Ketika pertunjukan usai, Taufiq Ismail langsung menyalami vokalis Rustam. Saya senang dan suka musik Gamad,” ujarnya.

Rustam yang sejak usia satu tahun mengalami kebutaan akibat salah pengobatan, mulai berkesenian sejak tahun 1963 sampai sekarang. Ia juga dikenal sebagai pencipta lagu Minang, yang dinyanyikan antara lain Erni Djohan dan Elly Kasim . Rustam dan kelompok musik yang dipimpinnya sudah menghasilkan sejumlah album, antara lain Saputiah Hati , Minang Tacinto , Tarapuang-Apuang , Sate Piaman , Silasiah , Sampaya Pabayan , Kasian di Bulan Tujuan , Kambang Botan, dan Rimbo Larangan.

Sumber:

http://oase.kompas.com/read/2009/02/21/17064383/Gamad.Melayu.Rustam.Raschani..Musik.Akulturasi.yang.Unik..

©ourtesy of https://laguminanglamo.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Translate to

Masukkan email anda pada kotak di bawah dan klik button 'Berlangganan'. Anda akan dikirimi email untuk setiap lirik lagu yang baru tayang

Join 253 other followers

badendang™

Dari Masa ke Masa


Lokasi Pengunjung

MARAWA

Dikunjungi

  • 5,864,472 orang

%d bloggers like this: